Arsip Blog - Membuka dengan Hati

Selasa, 17 Agustus 2010

IBU

Tadi pagi ibu menelponku. Dia menangis tersedu. Suaranya mengandung pilu. Aku sangat tahu, dia berusaha penuh demi kebahagiaan kita, anak-anaknya. Pasti dia telah lakukan hal-hal ajaib dan hebat yang kita tak sanggup menghitungnya. Kita masih terlelap saat dia mengambil air wudhlu, membasuh jiwanya dan bersapa dengan Tuhan. saat itulah dia mendoakan kita semua agar hidup bahagia. Kita masih bersantai dengan mimpi kala dia menanak nasi dan menggoreng lauk yang sederhana. Bisa jadi itu adalah makanan terlezat sepanjang masa, tapi kita memilih untuk tak menyentuhnya karena alasan yang tak jelas.

Ingatkah kita, saat ibu mengajari kita untuk berbahasa krama dengan yang lebih tua, hingga kini kita tak perlu bersusah payah untuk belajar sopan dengan yang lain.

Ingatkah, saat ibu membelai rambut kita dengan mesra, dan bercerita tentang lima gunung yang melingkari kota, sungguh tentram suaranya hingga kita terlelap penuh damai di sisinya.

Ingatkah, saat ibu selalu meluluskan permintaan-permintaan sepele kita, meski dia perlu menjual emas permatanya.

Ingatkah, begitu tegar ia, saat kita, anak-anaknya mengatakan : "ah!" kepadanya. hanya balasan doa dari mulut sucinya yang terucap, tentu untuk masa depan gemilang kita, anak-anaknya.

Ingatkah, sampai ibu tak sanggup membeli arloji baru, hingga arloji mati itu tetap dia kenakan. Biar gaya katanya. Tapi sekarang baru aku tahu, ibu tak mampu membeli yang baru, karena gaji bapak tak cukup untuk itu. Ibu cukup sahaja melihat anak-anaknya ceria.

Yang kita ingat barangkali, saat ibu murka melihat kita tak mengaji atau shalat. Kita lupa, justru inilah prinsip kita hidup sebagai muslim. Sekarang aku, mungkin beberapa dari kita, kesulitan juga membaca al-Qur'an, apalagi mengejawantahkan artinya.

Kita lupa, dia mengandung kita di rahimnya selama itu, tanpa merasakannya sebagai beban, dan kita membalasnya dengan ucapan : "kulo mboten nyuwun dilahirke, to?". Astaghfirullah.

Ibu adalah ratu adil. Tak ada yang bisa berbuat seperti beliau: wanita sederhana dengan kualitas pendidikan rendahan, tapi memiliki hati welas asih seluas samudra. Tapi ibu merasa kesepian. Kita terlalu banyak tuntutan. Kita terlalu sering malu dengan pemikirannya yang lugu. Kita selalu menghitung pemberian kita padanya, kadang malah hanya baru sampai pada niat dan tak terlaksana. Karena kita sibuk menghitung pemberian kita. Kita cukup biadab rupanya.

Tadi pagi ibu menangis. Untuk kesekian kalinya lewat telpon. Aku merasa menjadi anak yang sungguh tak tahu diri karena kita telah membuatnya sedih. Ibu sudah sepuh. Jiwanya makin rapuh. Kita tak bisa memberikannya kebahagiaan sejati. Sebagai anak kita telah gagal total mengantarkan dia untuk naik haji, malah kita bergejolak memperebutkan harta. Kita ternyata tak pernah naik kelas, kita tetap sebagai anak-anak kecil yang takut hadapi kenyataan. Selama ini Kita merasa perlu memandang diri sendiri: hanya kita yang serba kekurangan, padahal itu lebih sebagai tantangan hidup, dan kita manja saja. Dan kita memilih untuk membebankan semua masalah kita kepada ibu, ibu tercinta kita. Hingga ibu kita tercinta berduka, harus terus berjuang untuk kita, mengorbankan kembali keinginan-keinginannya.

Ibu yang sudah tua ini adalah ibu tercinta kita, yang hidupnya kelak dibatasi usia. Aku takut tak mampu membahagiakannya hingga tutup usianya. Aku takut kehilangan dengan segudang perasaan menyesal. Tapi ibu menangis pagi ini, karena ulah kita, anak-anak tercintanya. Padahal jika kita gagal sebagai manusia, bukan karena dia gagal mengajari kita menjadi manusia sempurna. Hanya kebebalan kitalah yang membelenggu keberhasilan kita. Jangan salahkan dia, kumohon. Kegagalan hidup kita tak ada urusannya dengan dia. Kita telah memilih jalan hidup sendiri, konsekuenlah. Jadi, mohon hentikan tuntutan-tuntutan kalian. Berdirilah dengan gagah menghadapi hidup. "Allah takkan mengubah nasib kaumnya, jika kaum itu tak mengubahnya sendiri."

Segeralah telpon dia, datangi dia, sujudlah di kakinya. Mohon ampun bumi dan langit dengan bersungguh-sungguh. Insya Allah, Tuhan membukakan pintu rizki-Nya untukmu. Insya Allah.

Rabu, 11 Agustus 2010

PERKASA


PRIGI, 7 Agustus 2010.

Ini adalah sebuah kesaksian, saat saya hunting lokasi untuk syuting program TKLB di Pantai Prigi Trenggalek. Saya menemui sebuah profesi, mungkin sudah purba, tapi adalah hal baru atas kacamata saya pribadi. Ada belasan perempuan, bercaping, bercadar, dengan peluh membasahi tubuhnya, menarik-narik seutas tambang di sisi kanan dan kiri, di bibir pantai Prigi. Apa yang sedang mereka lakukan? ternyata utas tambang tadi adalah ujung sebuah jala besar yang masih perlu ditarik mereka dari tengah lautan agar mencapai daratan. Ratusan meter panjangnya.

Waktu saya tanyakan sudah berapa lama hari itu mereka melakukannya, mereka katakan sudah sejak jam 11.30 siang. Padahal waktu itu di telinga saya lamat-lamat terdengar adzan maghrib. 6 jam! 6 jam di bawah terik surya, dengan asa penuh mengharap panen ikan akan berlimpah, mereka setia melakukan pekerjaan ini. Tak berhenti sama sekali, karena mereka harus bergelut dengan waktu. Sementara di sekelilingnya, pedagang-pedagang ikan juga menanti dengan penuh harap. 6 jam itupun belum juga pekerjaan selesai sepenuhnya. Saya taksir pekerjaan itu baru akan selesai 1 jam setelahnya.

Saya iseng mencoba membantu menariknya. Ya Allah. Berat sekali. Tenaga lelaki saya pun sempat tersengal. Belum lagi mesti menjaga keseimbangan dari benam pasir pantai. Dan mereka katakan tahap ini sudah cukup ringan. Artinya, jika jala tadi masih jauh di lautan sana, sungguh tak bisa saya bayangkan betapa banyak tenaga yang mesti dikerahkan. Fyuh!

Saya tanya, berapa mereka dapatkan upah atas pekerjaan ini? Mereka menjawabnya, jika ikan sepi mereka mendapatkan 20 ribu rupiah. Jika ramai, bisa sekitar 40 ribuan. Itu jarang. Hanya. Ya, hanya, menimbang jika saya refleksikan dengan gaji saya atau anda di luar sana. Padahal, jika beberapa hari sepi, sang juragan akan menghentikan dahulu pekerjaan ini. Artinya kemudian, mereka akan kehilangan pekerjaan untuk beberapa hari ke depan. Jadi, bisakah kau bayangkan betapa beratnya hidup sebagai mereka?

Saya jadi berpikir, merekalah yang semestinya mendapatkan bintang jasa, karena mereka dengan segenap jiwa raga mendedikasikan diri, mengejawantahkan kecintaan terhadap hidup itu sendiri. Merekalah pejuang-pejuang kelangsungan hidup keluarga. Dari tangan mereka, anak-anak bisa sekolah. Mereka hanya mengerti kerja adalah pengabdian pada Tuhan, menjalankan titah tanpa sempat berpikir untuk menghancurkan yang lain demi kejayaan diri atau keluarganya, seperti yang telah mahfum terjadi di negeri ini: seperti yang dicontohkan pejabat dan para pemimpin kita.

Saya menjadi semakin heran, mengapa justru di kota malah semakin menjadi hutan rimba. Semua bergelut sambil menyikut, mengenakan topeng tanpa malu, tak konsisten atas ucapannya, entah karena ewuh pakewuh, tapi sekaligus mendholimi kaum yang lebih lemah. Pemimpin mudah menarik kata-katanya, dan berkelit dengan seribu alasan, mencari cara agar kelakuannya bisa menjadi legal dan dibenarkan. Atau melarikan diri dari masalah dengan diam, tapi diam-diam tetap menebalkan muka. Banyak orang yang menganggap semua baik-baik saja. Mereka terlalu sering bercermin sendirian, melihat diri sendiri aman-aman saja.Celakanya, saluran komunikasi dibungkam pula. Banyak yang lupa, mereka lebih banyak makan hak orang lain dibanding haknya. Hampir semua termanipulasi. Panitia 17-an korup sisa kertas. Petugas tiket pantai memanipulasi jumlah pengunjung. Petugas parkir menarik tarif lebih tinggi dari PERDA. PNS tak mengembalikan uang penginapan hotel ke negara, meski tak memanfaatkannya. Pengusaha kongkalikong dengan pejabat. Dan masih banyak lagi, yang bermuara pada bahwa itu adalah hak. Perasaan mereka demikian. Atas nama kebutuhan, padahal untuk mengasihani kemiskinan jiwa.

Tapi saya sadar, jika ada yang mencibir setelah membaca tulisan ini. Jika ada yang mengatakan: makanya sekolah yang pinter! Wajar dong orang goblok kerja kuli! Aku kan sudah S2, gaji besar adalah imbalan sepadan! Dengan sesadar-sadarnya saya memakluminya. karena orang-orang seperti itu tak perlu didengarkan. Diiyakan saja. Tentu sambil kita doakan semoga mereka bisa setulus ibu-ibu di bibir pantai Prigi itu, dan kembali ke jalan yang benar. Apalagi pas banget waktunya, setiap doa kita di bulan Ramadan ini insya Allah akan di dengar-Nya.

Siapa yang mau berubah. Kau kah kawan? mari kita mulai dari sekarang.

Jumat, 27 Maret 2009

Anakku bernama RAIA


Telah lahir anakku yang kedua. Kamis, 12 Maret 2009, pukul 12.42 WIB. Rumah Bersalin Gladiool Magelang. Berat 4,5kg. Panjang 52 cm. Seorang anak lelaki yang kuberi nama : BHRE RASENDRIYA MENGGAPAI BINTANG. Panggil saja dia RAIA. Tak sulit kan? Artinya? coba kau buka saja kamus sansekerta. ada arti dari nama anakku. Aku akan membentuknya menjadi manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi seisi dunia. Manusia yang adil, jujur, dan bermartabat. Seperti namanya, RAIA (yang saya plesetkan dari RAYA, yang berarti besar), dia akan menjadi manusia yang besar jiwa dan teladannya. Semoga. 

SITUGINTUNG NASIBNYA MENGGANTUNG

Situgintung remuk redam. Saya hanya menyaksikannya dari TV. Tapi hati saya ikut hanyut bersama puluhan korban yang tak beruntung. Takdir tak dapat ditolak. Perlu tawakal yang sangat bagi yang mengalaminya. Saya berbela sungkawa. 

Tolong untuk para relawan yang kebetulan ada di sana, tanggalkan atribut kalian sebagai wakil dari sesuatu. Masih saja saya lihat atribut partai berebut simpati. Meski katanya bukan bermaksud kampanye, tapi maksud baik kalian insya Allah juga akan tak tercantum di buku besar sang Khaliq. Karena dibalik bantuan kalian jelas termaksud riba'. Kalian tetap berharap orang simpati atau berharap dianggap sebagai pahlawan. Saya tidak menilai demikian. Sebaliknya, saya kasihan kepada kalian juga kepada yang mengutus kalian. Kalian yang sebenarnya perlu ditolong. 

Rabu, 07 Januari 2009

TAHU DAN TAK TAHU

Ada yang tahu dirinya tahu

ada yang tahu dirinya tidak tahu

ada yang tidak tahu dirinya tahu

ada yang tidak tahu dirinya tidak tahu.

Yang paling berbahaya adalah yang terakhir. Sekarang berkacalah dirimu, kaukah itu? kalau begitu kau termasuk SOK TAHU. Simpan saja SOK TAHUmu, agar tak menjerumuskan orang yang tak tahu lainnya. 

KEBODOHAN MUSUH SEJATIKU

Kebodohan. Ternyata ini adalah kata, sebagai lingkup berpikir ataupun sikap, yang saat ini baru saya sadari merupakan momok menakutkan yang sangat saya benci. Pantas Rasulullah menghendaki kita memeranginya. Karena kebodohan selalu berkorelasi dengan kualitas berpikir, kualitas mengeluarkan pendapat, kualitas menentukan harkat hidup, kualitas dalam berhubungan dengan manusia lain, sehingga sejauh apa kita kedudukannya di mata orang lain. Kebodohan sangat bisa membahayakan citra diri, sehingga sebuah kearifan tak terjangkau dan terkubur begitu saja, kalah oleh keputusan-keputusan yang seringkali keliru. 
Jika Anda mencintai hidup, maka bencilah kebodohan ini. Karena hidup dalam kebodohan sama saja dengan tak hidup. Anda akan selalu berada di posisi tak setara dengan orang lain. Anda selalu berada terbawah dari rantai makanan kehidupan. Yang Anda dapat hanya sisa-sisa. Bahkan mungkin sudah basi dan tak layak. Bahwa Anda hanya akan mendapat pekerjaan kasar dan bergaji kecil. Karena mereka hanya bisa memanfaatkan tenaga Anda, bukan otak Anda. Karena Anda tak mampu tunjukkan kualitas kesempurnaan dalam mensikapi setiap kasus. Anda akan cenderung asal terjang, dan tak jauh berpikir. 
Jika Anda tak mau berubah, maka otomatis Anda tak mencintai hidup, maka Anda sudah jatuh cinta dengan kebodohan tanpa Anda sadari sesungguhnya. Dia akan menggerogoti masa depan Anda, sebuah masa depan yang seharusnya tak semata sesederhana bayangan Anda sebelumnya. Sebuah masa depan yang semestinya sangat cerah, minimal untuk anak cucu kita. 
Maka perangi kebodohan dengan merubah segala yang negatif dari dalam diri kita. Jangan membiasakan diri merasa nyaman dengan sesuatu yang telah Anda raih dan hadapi. Teruslah membaca buku, karena buku adalah cakrawala ilmu. Buku adalah pengantar untuk memahami pola pikir dan kedalaman hati orang lain. Buku mengenalkan kepada kita dunia yang tak terjangkau oleh kita sebelumnya. Buku adalah guru kearifan untuk tak berlaku sembrono. Bacalah sesegera mungkin, sahabat! Bergaullah dengan jiwa-jiwa yang putih, jiwa yang ingin maju. Jiwa yang selalu gelisah. Jiwa yang yakin setiap perubahan membawa dampak kebaikan. Jangan bergaul dengan mereka yang mudah menyerah, mereka yang kadung jatuh dalam lembah keputusasaan. Tuhan menciptakan ladang harapan, manusialah yang mewujudkan keputusasaan. Karena mereka adalah manusia-manusia pemuja kebodohan. Mereka bangga dengan kebodohan mereka, karena dengan begitu mereka pikir orang lain akan maklum dengan kerendahan derajat mereka. Mereka terbiasa dikasihani, mereka lebih senang tangannya dibawah untuk menerima dibanding memberi. Tapi mereka juga golongan yang mudah marah. Mereka anti kritik, sekaligus gampang menjatuhkan perasaan orang lain. Mereka miskin. Dan bangga jika miskin. Karena menurut mereka, miskin itu boleh bebas melakukan apa saja.
 Jadi, Anda memilih sebagai apa. Tentukan segera. Perubahan itu adalah sikap terbuka menerima yang beda. Siap menerima perkembangan zaman dan mengambil sikap atasnya. Berubah itu meliputi semangat dan konteks pengejawantahan. Berubah itu tak takut ketinggalan teknologi sekaligus tetap membumi. Letupkan ketetapan hati Anda, sahabat. Meski perubahan itu pasti tak gampang dan tidak enak di awal. Berubahlah secara esensi. Jangan mencari alasan diantara tantangan, sehingga Anda merasa bisa menghindarinya. Jangan lakukan itu, karena pasti anda akan menjadi orang kalah. Orang bodoh yang kalah. Orang miskin yang bodoh dan kalah. Dan jika masanya tiba, Anda saya jamin akan menyesal tapi tetap saja tak mampu berbuat apa-apa karena orang lain sudah berlari jauh di depan Anda. 
 Bodoh bagi saya adalah momok sekaligus musuh yang harus diberangus. Mimpi buruk yang harus saya hapus. 

Jumat, 26 Desember 2008

SANG PEMANAH BINTANG

Pagi belum juga perdengarkan adzan subuh. Kota masih lelap dalam mimpi dan buaian malam. Dewangga menemuiku dalam keadaan yang mengenaskan. Bajunya sudah tak berupa dengan balutan darah di mana-mana. Tapi tubuh itu tetap perkasa, meski tampak sekali keletihan merajai sekujur jiwa raganya. Kututup pintu dan kukunci kembali.
“Tolong aku, Danu. Tolong aku..”
“Apa yang terjadi padamu, saudaraku?”
Tak bisa kusembunyikan rasa piluku.
“Tuhan. Tuhan sedang mengejarku…Beri aku perlindungan. Tunjukkan tempat persembunyian yang aman.”
“ Tuhan mengejarmu? Kau lakukan kesalahan apa?”
Segelas air putih diteguknya tak bersisa. Sisa air dalam kendi diguyurkan ketubuh letih itu. Benakku tak berhenti menerka lakon apa yang sedang terjadi.
“Bukankah kau adalah sahabatNya? Itu diakuiNya dengan memberimu keleluasaan untuk memanah bintang? Logika dari mana kalian saling bermusuhan? Tak mungkin Dia murka jika kau tak berbuat apa-apa! Ayo, mengaku saja padaku, apa yang kau perbuat?”
Dia mengguncangkan tubuhku. “Sudahlah, tunjukkan dimana aku bisa bersembunyi dari malaikat itu. Aku sangat letih setelah berlarian sepanjang malam. Please, jangan tanya macam-macam.”
Dia lalu seperti kesetanan. Membuka pintu lemari. Menutupnya kembali. Berlarian tak terarah di ruang kecil ini. Menunduk di kolong tempat tidur. Berdiri. Menengadah. Lalu wajahnya pucat ketakutan seolah ada yang sedang membelalakkan mata padanya.
“Dia murka! Dia murka!”
“Wangga,” Kusentak tubuhnya,” Kau sangat tahu, tak ada yang bisa sembunyi dari mata-Nya. Bagaimana aku bisa membantumu?”
“Ah, aku kehabisan anak panah. Jibril tak mempan terkena panah emasku”.
“Wangga. Dewangga!”
Napasnya tersengal. Kulihat ada barutan penyesalan yang dalam dari wajah pucat itu. Dia berani memanah malaikat tentu ada sebabnya. Karena aku sangat percaya, dia lelaki terpilih. Dan sudah kukatakan padanya tadi, Tuhan memberkati dia untuk leluasa memanah bintang. Sementara orang lain harus susah payah meraih bintang dengan tangan kosong. Sebagian kecil berhasil, sebagian besar menyerah di tengah jalan.
Aku ingat sekali kala itu, saat Tuhan menyerahkan busur emas beserta anak panahnya kepada Dewangga. Dia janjikan anak panah itu takkan habis sama sekali hingga akhir zaman meski dia memanah bintang ribuan kali. Itu terjadi di lapangan bola pojok gang pada malam Lailatul Qodar. Dan janji itu, bagaimana Tuhan sekarang mengingkari janji-Nya?
“Danu….” Bibirnya berucap pelan.
“Ya.”
“Kau tahu selama ini aku sangat patuhi perintah-Nya. Ya, aku mulia. Kau lihat anak-anakku tumbuh sehat. Rezekiku bagai arus sungai yang deras. Istriku cantik dan setia. Kau tahu, tak sedetikpun aku berpaling dari-Nya. Tapi kali ini aku hanya ingin membantu. Hanya ingin membantu.”
Keningku bekernyit.
“Lihat manusia-manusia itu. Semakin banyak yang menantikan aku memanahi bintang. Mereka mengharapku untuk memanahi bintang, hingga bintang itu jatuh dan mereka punguti harapan yang terserak dari tubuh bintang itu. Mereka bahagia, bukan? Mereka bahagia karena selalu muncul bintang jatuh. Bukankah kau juga akan panjatkan harapan yang muluk saat melihat bintang jatuh? Kau tahu, siapa yang harus menyelesaikan urusan ini? Aku. Aku, Danu! Tuhan menunjukku untuk menjatuhkan bintang dengan panah ini. Tapi kali ini aku tiba-tiba ditegur-Nya! Aku ditegur-Nya terhadap sesuatu yang dikendaki-Nya.”
Rona matanya melebam. Suaranya terisak landai. Sang pemanah bintang itu menangis tak tertahankan lagi. Aku sontak mendekapnya. Trenyuh melebur masuk dalam dadaku saat tubuh kami bersatu. Bangga, karena akulah sahabat lelaki terpilih. Miris karena dia kini menjadi sangat histeris. Dan luka karena Tuhan melukai hatinya.
“Kau percaya padaku, Danu?”
“Bagaimana aku mengatakan tidak? Kau amanah.”
Dia masih menyisakan tangisnya,”Tapi aku tetap manusia…tempat salah dan dosa.”
“ya..ya..” Hanya itu? Ya ya? Aku memang tak tahu harus mengatakan apa lagi. Karena aku pun kadang lupa bahwa sahabatku ini adalah manusia.
“Tapi mengapa Tuhan menegurmu?”
Dia beringsut melepaskan pelukannya,
“Kau ingat, Dia mengijinkanku memanahi bintang semauku? Nah, aku melakukannya demi melihat orang-orang tak berpengharapan terlalu lama. Mereka butuh mimpi. Mereka butuh cita-cita. Aku hanya ingin memudahkan jalan mereka untuk merdeka. Tetapi ternyata Tuhan tak suka. Bukan karena bintang-Nya kupanah, tetapi alasanku itu yang membuat-Nya murka. Aku dianggap menjadikan diriku Tuhan. Oh, bagaimana mungkin? Aku sangat mencintai-Nya! Kau tahu itu. Kau sangat tahu. Aku berdebat sengit dengan-Nya tentang konsep keTuhanan ini. Tetapi sayang, Kami tak menemui titik temu. Tuhan kadung utus malaikat-Nya untuk memburuku. Mereka memburu sepanjang malam ini. 3 hutan telah kuterjang. 10 Sungai telah kusebrangi. Mereka tak berhenti. Aku kehabisan akal. Kuarahkan busurku ke dada mereka. Beberapa terkapar. Namun, jibril tak mempan oleh panah emasku. Dan sialnya, Tuhan bermain curang dengan menghabiskan sisa anak panahku. Dan aku tak tahu apa alasan-Nya mengkhianati janji-Nya.
“Aku bergelut sengit dengannya. Saat lengah dia kujerumuskan ke jurang. Tapi ternyata dia masih mengejarku meski terseok. Aku tak habis pikir, berapa nyawa yang dipunyainya. Saat itulah aku menemuimu, sobat. Aku butuh tempat berlindung. Butuh tempat mengadu.”
“Tapi aku lebih manusia ketimbang dirimu. Bagaimana aku melindungimu? Dari Tuhan? Dia tetap Tuhanku. Tuhan Kita.”
“Kau cukup cerdik memikirkannya. Think about some place!”
“Tidak. Maaf. Aku tak bisa. Kau mengajakku berkonspirasi di depan mata Tuhan? Bukankah ini sia-sia, Dewangga?”
“Kau sudah lupa betapa besar jasaku padamu selama ini?”
Aku menghimpun kekuatan untuk menolaknya lagi,”Ini tak menyelesaikan masalah. Bukannya tidak mau, bedakan, ini tidak bisa. Oh, Dewangga, aku menyayangimu. Sungguh. Maka temuilah Tuhan. Minta ampunlah dirimu.”
“Tidak! Sudah terlambat. Aku pun tersakiti dengan pengkhianatan-Nya.”
Tiba-tiba tanpa mengetuk pintu sang jibril menerobos saja ke ruang ini. Rupanya dia sudah mengintai di luar tadi. Meski Jibril sangat tampan, kentara sekali betapa Dewangga sangat pucat pasi,. Diraihnya leher Dewangga. Lalu diangkat sekian sentimeter, dan dilepaskannya perlahan. Tubuh Dewangga sempat mengejal. Tapi sedetik kemudian lantas lunglai berkalang tanah. Kulihat rangkuman partikel biru keluar dari tubuhnya dan dihirup hikmat oleh Jibril.
Saat hendak pergi, kerling matanya menatapku lekat. Aku menunduk semakin dalam oleh kilau auranya yang tiba-tiba menyilaukan. Lalu jibril lenyap. Kini tinggal aku dan seonggok tubuh lunglai sahabat yang tersisa. Lantas ruangan ini seolah sangat luas sekali. Aku tak sanggup mencapai jasad Dewangga. Padahal dia persis disampingku duduk. Lantai ini terasa dingin sekali. Seluruh tulangku serasa terlolosi. Aku menjatuhkan air mata. Menangisi kepergian sahabatku. Menangisi ketololan Dewangga yang tak bertobat. Menangis protes atas titah Tuhan pada Jibril.
Televisi masih menyala. Kerumunan semut hitam memenuhi layar putihnya.
Suara yang kukenal terdengar dari sana. Suara Tuhan.
“Hapuslah air matamu. Aku mengambil Dewangga bukan karena dendam. Dan jangan berpikir aku mengkhianati janji, karena janjiKu kekal. Hanya saja, sebuah kesalahan tetap memerlukan sebuah hukuman. Aku Maha mengetahui kelak yang terjadi, dan aku sangat paham sekali dampak atas tindakannya. Dia tidak berhak menentukan masa depan manusia dengan begitu saja. Dia sudah tidak selektif. Karena perbuatannya, umat manusia akan punah. Mereka akan melupakan proses, dan hanya mengharapkan mukjizat semata lewat bintang jatuh. Dan kau tahu, dia semakin jumawa. Dia tak mau bertobat! Jika manusia tak mau bertobat, artinya dia menyekutukan-Ku dan bibit untuk men-Tuhan-kan dirinya.”
Aku masih larut dalam duka.
“Nah, Danu. Inilah takdirmu. Raih busur itu. Jadilah sang pemanah bintang berikutnya. Ku harap kau bijak dan patuh.”
Aku terkesiap. Tawaran ini sangat menantang. Menikmati kemudahan hidup seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi, yang benar saja, dalam suasana seperti ini? Oh, lebih dari itu. Aku harus mengatakan sesuatu yang telah aku pikirkan sedari tadi.
“Tuhan. Maaf. Dengan ridho-Mu aku harus menolaknya. Aku mencintai perjuanganku dalam menggapai bintang selama ini. Kedua tanganku cukup kokoh untuk meraihnya. Mulai sekarang lebih baik jangan pernah ada lagi bintang jatuh. Sudah cukup banyak bintang jatuh. Sudah banyak orang keliru tak mau lagi berusaha. Aku hanya ingin mencapai bintang dan hidup sebagai dirinya. Aku akan hidup menjadi bintang yang terang di malam hari, sehingga mampu tunjukkan jalan bagi yang tersesat di belantara kehidupan. Aku hendak menjadi bintang. Dan aku tak mau jatuh.”
Tuhan terkekeh. Pasti dia juga manggut-manggut.
Memang sudah saatnya semua diubah. Cukup satu saja korban yang mati karena keinginan instan. Dewangga mati mengorbankan dirinya karena piciknya pikiran manusia. Mereka pikir bintang jatuh mampu mewujudkan semua cita-citanya. Mereka sudah lupa nikmatnya perjuangan yang berliku. Mereka sudah lupa bahwa hakekat hidup adalah perjuangan itu sendiri. Tanpa bintang jatuh berarti semua akan fair. Kehidupan manusia akan berkembang lagi, penuh warna.
Jadi, hey kau, apakah masih berharap bintang jatuh? Huh. Kau akan sia-sia.


Magelang, 23 Oktober 2008
23.51 WIB

Rabu, 05 November 2008

TERLALU BANYAK HAKIM DI INDONESIA

Kasus Syekh Puji yang nekad menikahi Ulfa yang masih 12 tahun ternyata menyedot perhatian kita. Sebentar, saya mau tanya reaksi Anda apa? boleh saya tebak, menghujat, mencela, atau bahkan mendoakan biar masuk neraka? Sebentar, saya tanya lagi : kenapa kita harus ikut-ikutan berkomentar yang nggak perlu? Saya tanya lagi, Anda saudaranya Ulfa, tetangga, atau teman, atau kerabat jauh, atau orang yang berlalu lalang di jalan yang sekadar mengemukakan pendapat tapi lalu pergi begitu saja dengan tidak bertanggung jawab? Kalau termasuk kategori yang terakhir, ini sangat bahaya. Anda berpotensi memperkeruh suasana. 

Bukan membela, tetapi Saya pikir Syekh Puji mempunyai alasan sendiri dalam menentukan pilihannya. Dan sepengetahuan saya, orang tua Ulfa, bahkan Ulfa-nya sendiri tidak merasa terpaksa atau menjadi korban pelecehan. Lalu kenapa kita yang kebakaran jenggot? Mengapa kita tidak mulai belajar menghormati pilihan atau keputusan orang yang sebenarnya tidak sama sekali mempengaruhi terhadap hidup kita? Mungkin tergolong nekad tindakan syekh Puji ini. Tapi kalau dikatakan keliru, coba tunjukkan dimana kekeliruannya? Dalam hukum Islam, selama pernikahan itu ada wali, ada mempelai, ada saksi, dan akad dibawah al-Quran, artinya sah. Jadi mana yang keliru? 

Kalau menimbulkan masalah sosial, misal memberikan contoh buruk bagi orang lain, sehingga berpotensi membuat yang lain ingin mencontohnya, kira-kira yang bodoh siapa? Tentu orang lain itu. Karena bisanya cuma mbebek. Bisanya cuma latah tapi tak mengerti sama sekali esensinya. Ya, kita sering terbiasa menjadi pribadi yang tak berkepribadian. Kita biasa bermuka dua. Biasa melihat orang lain salah, sementara kita tak sadar bahwa mungkin saja kesalah kita buat sepanjang hari sepanjang hidup.  Atau memandang sebuah kejadian yang dialami orang lain sebagai komoditi yang bisa kita jual demi rating misalnya. Maka kita seolah-olah berhak menjustifikasi perbuatan orang lain semau kita tanpa mempertimbangkan hati nurani dan perasaan orang lain. 

Dan jika Anda salah satu yang menyarankan mereka bercerai, apa pernah terbersit yang memikirkan nasib Ulfa selanjutnya? Status janda di masyarakat kita jelas negatif. Jika dia mau meneruskan sekolah, apa tidak kita bayangkan hal-hal yang bakal terjadi. Misal teman-temannya menjauhinya, meledeknya dan sebagainya. Pertanyaan penting, Anda mau bertanggung jawab? Pasti Anda memilih lari dan mengatakan "aku nggak ikut-ikut..." Huh! Pengecut. 

Saya rasa, Ulfa pun kini punya prioritas dan pandangan sendiri mengenai istilah masa depan. Karena tiap orang pun memandang hidup juga dari sisi yange berbeda-beda. Mungkin dia cukup sederhana saja, masa depan adalah hidup tenang dan neyenangkan orang tua dengan balasan ganjaran janji Allah yaitu surga. Maka kita tak berhak mengarahkan masa depan melulu materi kepadanya. jangan-jangan justru kita yang pendek berpikirnya? Mungkin sekali. 

Jadi, kalau mau jadi hakim dan menghakimi seseorang, sekolah dululah di sekolah yang resmi. fakultas Hukum misalnya. Tapi setelahnya jadilah hakim yang baik dan mengacu pada nurani. Jangan nggak sekolah di fakultas Hukum sedetik pun, masih saja jadi hakim nasib orang lain. Kelihatan bodoh dan pongah sekali....

Selasa, 02 September 2008

MARHABAN YA RAMADHAN

Ramadhan ini sudah menyentuh kita. Buat yang menjalankan selamat saja. Semoga kemenangan ada di pihak kita. Semoga dengan ramadhan ini kemudian ada rasa yang tertinggal untuk kita tuntaskan di kehidupan sosial selanjutnya.
bahwa semoga kita jadi ingat, sudah lama kita tak berbagi.
bahwa kita jadi sadar, kita sangat beruntung selama ini.
bahwa ternyata rasa lapar dan dahaga itu tidak enak, dan tidak enak itu dirasakan sepanjang hari oleh mereka yang ada di sebelah kita.
bahwa ternyata berpikir positif terhadap apapun itu lebih sejuk di hati.
bahwa gosip dan wasangka adalah perbuatan keji.
bahwa air wudhu melebihi obat segala sakit.
bahwa sabar adalah terang matahari.

Marhaban ya Ramadhan. Semoga tahun depan kita menjumpainya lagi.

Selasa, 26 Agustus 2008

APAKAH LEGISLATIF ITU SEBUAH LOWONGAN PEKERJAAN?

Sadar tidak, kalau lowongan kerja yang dicari-cari orang saat ini adalah sebagai calon legislatif? Bahkan untuk menduduki posisi itu, segala cara dilakukan. Urat malu dibenam rapat-rapat. Begitu transparan di berita-berita media, mereka saling mengklaim diri yang sah dan yang hak. Mereka saling mangadukan lawannya ke mahkamah hijau. Mereka memprotes dengan mengajak konstituennya untuk ngluruk kantor partainya, meninggikan harkat yang kadung terserak selama ini. Ada yang tenang-tenang saja, tiba-tiba namanya tercantum dalam daftar urut. Ada ratusan artis yang tiba-tiba tampak peduli berpartai. Oh, betapa nikmat godaan mimpi menjadi pejabat. Betapa menggugurkan dahaga rasanya jadi pejabat. Betapa kita akan seolah multiple orgasm jika punya kuasa menyuruh-nyuruh orang lain.  Tapi apa itu hakekatnya? hanya serendah itukah? Saya curiga jangan-jangan mereka hanya pengangguran terselubung di negara kita yang mencari hidup menjadi legislatif? betapa naifnya jika kita tak bisa berpikir lagi bahwa di luar sana masih banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan. Jadi saja pedagang. Atau makelar. Atau penulis buku. Atau tukang becak, pegawai bank. Banyak! Banyak pekerjaan yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingan atas nama rakyat. Apa kemudian 'rasa' prestise itu hanya didapat jika menjadi legislatif? Atau karena orientasi gaji bejibun? 

Saya ngeri membayangkan akan jadi apa negeri ini kelak. Jangan-jangan sudah banyak diantara kita yang lupa bahwa pengelola negara itu justru abdi masyarakat. Babu. Bukan kebalikannya, rakyat disuruh mundhuk-mundhuk, memberikan jalan mereka karena mendengar sirine foriders, atau disuruh pindah tempat duduk karena mau dipakai pak DPR. Saya ngeri jika dalam hati kebanyakan kita tak bertujuan mengabdi. Jika rapat seolah membela kepentingan rakyat tapi minta insentif diluar gaji. Outcome-nya tidak jelas, tapi income pribadinya "mak bluk". 

Sebenarnya saya ngeri sekali ketika menyebutkan bahwa jabatan legislatif adalah "lowongan pekerjaan" sejak awal tadi.  Karena bagi saya itu adalah amanat. Sebuah posisi yang menuntut tanggung jawab moral yang harus dipertanggung jawabkan kepada rakyat dan Tuhan. Sebuah jabatan yang penuh kegelisahan. Gelisah jika rakyat tak bisa makan. Gelisah jika orang lain tak berdaya beli secara memadai. Gelisah jika kita memakan gaji dari uang pajak rakyat, sementara kita tak berkontribusi optimal buat mereka. Gelisah jika terus-terusan menuntut fasilitas pribadi dari anggaran negara. Gelisah jika korup. Menangis bertahun karena tak memperjuangkan nasib rakyat. Berduka mendalam saat kehilangan akhlak. 

MAAFKAN SAYA ATAS KENGERIAN SAYA. 

Selasa, 19 Agustus 2008

HARI MERDEKA, untuk siapa?

Tujuh belas agustus tahun empat lima...
Itulah hari kemerdekaan kita...
Hari Merdeka nusa dan bangsa...
hari lahirnya bangsa Indonesia..Merdeka!
Skali merdeka tetap merdeka..
selama hayat masih di kandung badan...
Kita tetap sedia tetap setia mempertahankan Indonesia...
Kita tetap sedia tetap setia membela negara kita...

63 tahun Indonesia merdeka. Bertahun-tahun selama hidup saya, saya selalu dengan gagah berani dan lantang tak kepayang menyanyikan lagu itu. Betapa kemudian rasa di hati membuncah untuk berbuat terbaik bagi negeri. Tapi tidak tahun ini. Tidak untuk dua tahun ini mungkin. Mengingat lagi lirik H. Muntahar tadi, saya sekarang bertanya pada diri sendiri : Ndak Iyo? (Apa iya?)
Apa betul Indonesia sudah merdeka? Apa sampeyan-sampeyan di sana sudah merdeka, sedulur? Jangan-jangan kita malah ndak tahu arti merdeka itu sendiri. Ya, mungkin saya yang terlalu keras pada diri sendiri untuk memberikan makna dan arti sebuah kata merdeka. Merdeka bagi saya adalah hidup layak.
Merdeka bagi saya adalah tidak merasa terpaksa berbuat sesuatu pun karena orang lain, diluar kesadaran demi kepentingan orang banyak dengan tidak meninggalkan penghargaan atas hak-hak seseorang.
Merdeka bagi saya adalah hidup tenang tanpa campur tangan orang lain.
Merdeka bagi saya adalah fairplay.
Merdeka bagi saya adalah semuanya baik dan baik bagi semua.
Apa sampeyan sudah merdeka? Saya khawatir jangan-jangan sampeyan sudah memenuhi kualifikasi merdeka saya, tetapi dibalik itu sekaligus mengekang kemerdekaan orang lain? Who knows? siapa tahu? Karena kadang kita berbuat sesuatu demi kepentingan kita sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain, meski tak jarang mengatasnamakan orang banyak.
Lebih banyak apa, kita mengeluh tentang kondisi negara atau membanggakan negara?
Lebih banyak mana, kita berkomentar atau berbuat sesuatu?
Lebih memilih mana, menghukum orang yang tidak upacara bendera dengan memberikan cap tak nasionalis dibanding tingkah laku kita yang korup?
Kita memang gampang mengaku sudah merdeka. Apalagi sekadar manis di bibir. Tetapi coba lihat di bawahmu, masihkah kaki-kaki kita menginjak saudara yang lain? Masihkah kita tega makan enak sementara di sisi kita banyak yang tidak bisa makan?
Lihat perayaan kita kali ini. Lihat di malam 17 agustus kemarin. Betapa semarak perayaan tasyakuran itu. Ada dangdhut. ada doorprize. Ada riang gembira disana. kasat mata memang guyub. Tapi coba lihat. Setiap komunitas berlomba yang termewah, terbesar, ter-wah dibanding lain. Bahkan ada, di satu jalan kampung, tampak 3 kegiatan tasyakuran yang berbeda. Masing-masing berlomba dengan kekuatan sound system yang bersaing. Begitu gaduh. Begitu tidak nyaman didengar. Tapi tetap saja dilakukan setiap tahunnya. Sampai larut malam lagi. Saat dimana orang lain harus istirahat. Saat dimana yang dapat jatah lembur dikantor mesti pulang telat karena jalan diblokir sana-sini. Sampeyan merdeka, cak. Lha mereka tersiksa. Doremah?
apa tak lebih baik jika dikomunikasikan untuk merayakan bersama saja. kan lebih hemat. Kan lebih semarak. Kan lebih nyedulur?
Meski, itupun saya pikir juga sebuah pemborosan. Saya tak yakin kegiatan itu ada dampak positipnya ke depan, ya selain 'keliatan' guyub itu tadi. Saya tak yakin anak-anak muda akan kemudian serta merta muncul jiwa nasionalisnya, sehingga akan memperbaiki kisi-kisi infrasturktur negara, atau sekadar meninggalkan narkoba. Saya tak yakin sepulang kegiatan itu, pagi harinya ibu-ibu berhenti bergosip tentang tetangga yang tidak mereka sukai karena alasan yang tidak masuk akal.
Jadi, sebelum kita teriak-teriak hari merdeka, renungkan dulu saja apa kita sudah merdeka dan apa kita sudah memerdekakan orang lain?
Dirgahayu Indonesia. Right or wrong is my country. Tapi kalo wrong terus...awas ya!

Kamis, 07 Agustus 2008

SATU KAYUH BERDUA




Satu kayuh berdua....sepenggal lirik KLa Project itu teringat kala aku berada berdua di hamparan air di atas sebuah "gethek" di resto wisata Boyong Kalegan Jogja bersama permata hatiku, Jingga. Dia tampak begitu menikmati kebersamaan ini. Apalagi yang diharapkan seorang anak selain kasih sayang orang tuanya? Saya jadi teringat beberapa kejadian, seseorang yang dengan sengaja membuang anaknya atau berusaha menggugurkan kandungan dengan alasan gila dan tak masuk akal. Anak berhak atas kehidupan. Anak berhak menikmati dunia layaknya kita. Selamat hari anak nasional. Better late than never. 

THE GURU




mas Didi Petet orangnya cool. Tak biasa bicara kalau tak ditabuh. Saya salut atas kedisplinan dan komitmen-nya. Meski hanya bertemu selama 3 hari, namun tak sedikit kenangan yang terekam di benak. Foto ini diambil di sebuah sudut di Hotel Tretes Raya PrigenPasuruan saat akhir kegiatan Penjurian Festival Video Edukasi 2008. Hayo tebak, mana yang Si Boy, mana yang emon? hehehe...akhirnya datang juga!

RISANG SANG PENAKHLUK




Namanya Risang. Seorang anak muda dari Probolinggo. Dia adalah sahabat yang mengajariku tentang pertahanan hidup yang hebat. Meski menyandang tuna rungu, Risang tak gentar menghadapi setiap tantangan. Dia adalah orang yang mandiri, melakukan segala sesuatu dengan keyakinan diri yang penuh. Risang adalah pemuda multi talenta. Dia berkeinginan menjadi seorang ahli Komputer dan desainer. Satu lagi yang membuatku salut, Risang mengajariku untuk tidak malu karena beda. Risang mengajariku tumbuhkan kepercayaan diri. Thanx Sobat. Aku mengenangmu selalu dan selalu.

Rabu, 06 Agustus 2008

NAIK KELAS



Anakku sekarang TK B. Sepertinya dia tak pernah berhenti berekplorasi tentang apapun. Tak sangka hidup dengan belahan jiwa seperti dia mampu memberikan pembelajaran yang banyak sekali yang belum pernah kutemui hanya dengan sekadar berandai-andai sebelumnya. Dia adalah inspirasi sepanjang hariku. Pelita jika aku terjebak dalam kelam langkahku.
Terima kasih atas tulusmu, Nak.

SPORTIVITAS ITU PERLU DI SEMUA BIDANG

Sering saya berpikir, semiskin apa negara kita. Atau pertanyaannya kita bikin lebih sempit, semiskin apa mental bangsa kita? Kebetulan awal minggu ini saya pulang ke surabaya naik kereta api. Ketika tiba di loket, ternyata jatah kursi telah penuh dipesan sebelumnya. Tetapi masih saja pihak KAI membuka untuk tiket tak bernomor duduk. Celakanya, karena menimbang mengejar waktu, atau terkondisi tak punya pilihan lain, saya terpaksa membelinya. Saya menyadari saya goblok karena memberikan pembenaran atas penyimpangan ini. Karena saya tak begitu yakin uang tiket itu akan dihitung sebagai pemasukan resmi negara. Kedua pihak, saya dan KAI jelas keliru sebenarnya. saya memberikan sikap permisif, dan dia dengan sadar melanggar aturan.
Itu satu. Lalu kemudian saya menaiki kereta yang dimaksud. Jelas saya tak mungkin mendapatkan kursi, dan saya tak mungkin mengakuisisi hak orang lain. Saya mencoba masuk restorasi untuk duduk di sana, karena dari luar saya melihat gerbong itu kosong. Ternyata saat saya mau duduk, langsung dicegat pengelola restorasi. Dia memberikan alternatif, yang saya rasakan lebih sebagai pemaksaan halus, bahwa jika saya hendak duduk di sana, mesti bayar 25 ribu tambahan, dengan memperoleh fasilitas makan nasi goreng dan segelas teh hangat plus jaminan tidak diusir. Bagus! Saya terjebak, karena tak mungkin juga saya mesti berdiri selama tak kurang dari lima jam selama perjalanan. Saya merasakan kesialan bertubi. ya sudah. Tak mengapa. Sikap permisif yang keliru saya lakukan lagi.
Itu dua. Ketiganya, saat itu ternyata ada juga seorang yang duduk di depan saya punya nasib serupa. Bedanya dia memang sengaja, saya tidak. Sengajanya dia sudah 4 tahun melakukan hal itu, yaitu naik sebagai penumpang gelap, melakukan transaksi dengan pihak Kereta Api, membayar di atas kereta dengan harga damai. Dan KAI sekali lagi merasa itu hal yang sudah jamak. saya sebal, saya perlu mengeluarkan uang tiket plus 25 ribu, sedang dia hanya membayar separoh harga tiket dan bebas duduk di restorasi sampai tujuan. Ueenaknya! Menyakitkannya lagi, dia membayar petugas itu tepat di bawah meja di depan saya.
Sesaat setelahnya, kondektur kereta duduk di depan saya. Kami banyak mengobrol tentang apa saja. Sampai pada pengalaman-pengalamannya selama menjadi kondektur. Ternyata dia sering sekali mendapati penumpang gelap seperti itu. Tetapi katanya, apa mau dikata, karena kereta sudah berjalan, mereka tetap dikenai tarip tapi sesuai kemampuannya. Lho kok? saya iseng lagi bertanya, orang yang seperti apa mereka. Dia menjawab biasanya aparat, polisi atau militer. Biasanya mereka minta diskon sampai 50%. Alasannya? Pembicaraan selesai. Tak ada yang berani bicara.
Saya berpikir, mungkin kalau semua warga negara diberi hak punya senjata, mungkin bisa juga naik kereta dapat diskon 50% juga ya? Karena sampai saat ini saya tidak juga menemukan korelasi logis atas perbedaan fasilitas ini selain hal itu. Kalau alasannya mereka kan garda depan penjaga bangsa. saya rasa semua profesi yang luhur pun adalah kekuatan bangsa. Dan saya merasa, setiap orang punya problem. Mungkin gaji kecil, kebutuhan banyak, dan alasan remeh temeh lainnya. Tapi kan semua orang merasakan? Maaf, bukannya saya tidak suka dengan sesuatu profesi, tetapi saya jelas sebal dengan orang-orang yang sok berjuang untuk negara padahal perilakunya justru menghancurkan perekonomian negara. Karena saya juga punya kakak yang militer dan saya pernah juga mengajukan pertanyaan serupa, dan dia sama sekali tidak bisa menjawabnya dengan tepat.
Terpikir tidak misalnya oleh PT. KAI, jika kelebihan muatan, maka beban akan semakin berat, padahal kemampuan rel, misalnya, tidak mampu menyangganya. akibatnya akan banyak : rel rusak sebelum waktunya, gerbong rusak sebelum waktunya, terjadi kecelakaan karena tidak stabilnya kereta, sehingga diperlukan perbaikan yang terlalu sering menguras uang negara, dan sebagainya.
Saya merasa bersalah sekali kali ini. Merasa gobloknya lebih-lebih. Ya, semoga kepala PT. KAI membaca tulisan ini. Juga semua orang yang pernah melakukan kesalahan yang sama dengan saya, atau bahkan lebih salah, atau kesalahan kecil. saya kan cuma bisa mengajak saja, yuk bersikap sportif....

Senin, 28 Juli 2008

MERENTANG WAKTU

Uh. Ternyata cukup lama aku tak menulis sesuatu di sini. Ribu kejadian mungkin telah berjalan dan menyentuh sisi-sisi hidupku. Maaf jika aku lupa bercerita padamu sekian waktu. Tentang apa saja. Padahal mungkin dalam diriku ada yang ingin kusampaikan segera, tetapi selalu kalah dengan "rasa" sibuk sebagai orang kota kebanyakan.
kali ini aku menulis lagi. Meski sekadar menyapa dahulu, belum menyentuh esensi.
Aku sedang teringat sumiarsih.
Aku sedang mengikuti berita pembunuhan berantai oleh pemuda Jombang.
Aku sedang tidak habis pikir tentang orang yang menyangkal keterlibatannya dalam konspirasi meski nyata dia terbukti.
Aku sedang berduka atas meninggalnya Pak Syahrir.
Aku sedang lega eventku sukses tergelar. 
Aku sekarang kenal dengan Didi Petet.
Aku baru saja bertukar biola dengan Rangga, pengamen jalanan kawasan Pucang.
Aku masuk angin lagi gara-gara nongkrong bareng teman-teman Pustekkom nyanyikan lagu-lagu KLa Project : wuih, dahsyat ternyata semuanya KLanis!
Aku juga sedih dapat kabar India di Bom.
Aku sedang rindu anakku yang terus meminta CD Idola Cilik.
Aku semakin mencintai istriku yang sedang hamil anak kedua Kami.
Aku semakin arif melayani orang lain.
Aku sangat ingin berlibur ke Magelang.
Aku ingin maju dan tidak stag.
aaku ingin segera memberangus rasa ragu-raguku terhadap apapun yang menghalangi masa depanku.
Aku bertemu teman kuliah di milis.
Aku kemarin bertemu Pak Arif Rahman dan Dik Doank di Satukan Hati Cerdaskan Bangsa.
Aku sedang ingin menulis tapi tak tahu apa yang ingin kutulis.
Aku pengen back to walk : beli sepeda untuk berangkat ke kantor.
Dan masih banyak yang melekat di otakku.
Tetapi aku sama sekali lelah. Aku sedang ingin beristirahat.

Selasa, 24 Juni 2008

MENGHARGAI DIRI SENDIRI

Bagaimana cara kita menghargai diri sendiri? ya, tentu saja pertama kali yang mesti kita lakukan adalah dengan cara menghargai orang lain. Bagaimana cara menghargai orang dengan baik? Tentu saja dengan menghargai pendapatnya, menghargai privacy-nya. Bagaimana kita tahu batas-batasnya? Coba kau perhatikan apakah dia kurang nyaman mendengar pertanyaanmu atasnya, atau dia berubah ekspresi saat kau mengusik dengan membincangkan tentangnya. Tentang apa saja. Bisa tentang riwayatnya, kehidupan pribadinya atau apa saja. Atau dia tampak menahan gelisah ketika kau membual tentang kehebatanmu.
Tidak menghargai orang lain satu diantaranya juga adalah selalu menyombongkan diri. Menganganggap orang lain jauh di bawahnya, ilmunya, pengetahuannya, kekayaannya, pengalamannya, dan sebagainya; dengan menutup mata tanpa mencari tahu ihwal siapa dia, dan sepak terjang apa saja yang telah dilakukannya.
Orang yang tidak menghargai orang lain, adalah orang yang tidak menghargai diri sendiri. Orang yang tidak menghargai diri sendiri mendekati kriteria orang yang bebal. Identitasnya selalu lekat dengan bermulut besar, tak bisa membedakan kebenaran dan kebohongan, tukang membual, selalu merasa penting, dan merasa setiap omongannya cerdas padahal bertolak belakang sama sekali. Dia, orang ini, tak pernah jera meskipun sering merugi karena ucapannya sendiri.
Orang yang tidak menghargai diri sendiri selalu membicarakan kehebatan dirinya dan menafikan prestasi orang lain. Orang yang tidak menghargai diri sendiri adalah orang paling bodoh sama sekali di dunia.

Kamis, 19 Juni 2008

KEHILANGAN TAK SELAYAKNYA DISESALI

Semalam, ketika Saya mengunjungi sebuah pameran di Gramedia Expo Surabaya, saya mengalami kejadian kecil yaitu kehilangan helm dan jaket di tempat parkir. Sebuah tempat parkir yang didesain sedemikian rupa sehingga seperti mustahil akan terjadi tindak kejahatan. Tapi itulah, semuanya terjadi. Barang saya lenyap dan hanya meninggalkan sisa tali helm yang menggantung pasrah bekas irisan senjata tajam.
Terus terang saya sama sekali tak merasa kecewa atau kehilangan. Mungkin lebih mengarah ke keheranan saja. Eh, ternyata akhirnya hilang juga...padahal selama ini ditempat-tempat lain, bahkan di tempat parkir umum pinggir jalan, tak pernah ada yang menjamahnya. Bukan karena merasa kaya, tapi yang justru saya pikir buat apa sih kita lalu kebakaran jenggot?
Tak bijak rasanya menyalahkan orang lain. Bisa saja saya salahkan tukang parkirnya. Bisa saja saya salahkan teman saya yang mengabari ada pameran tersebut. Bisa saja saya salahkan nasib. Bisa saja saya salahkan Tuhan. Bisa saja saya salahkan seluruh dunia. Tapi apakah semua itu membuat helm dan jaket saya kembali? Absolutely TIDAK!
Mungkin malah saya bisa membuat orang lain kehilangan pekerjaan. lalu keluarganya tidak bisa makan karenanya. Atau membuat orang lain merasa bersalah, lalu karena kepikiran dia mesti cari-cari uang, hutang sana-hutang sini buat mengganti. Celakanya karena tak dapat-dapat uang, dia jadi stres dan jatuh sakit. Tapi sekali lagi, apakah itu membuatku puas? TIDAK. Karena saya akan merasa sama saja dengan pencuri itu. Membebankan masalah pribadi kepada orang lain. Sangat tidak bijak. Karena setiap orang punya masalah sendiri-sendiri dan kita sama sekali tidak berhak membuat orang menanggung nasib kita. Jika mental saya masih demikian, maka saya termasuk orang yang sangat miskin. Orang yang tidak pernah menghargai diri sendiri. Orang yang dengan suka cita menari diatas penderitaan orang lain.
Saya hanya perlu berdoa. semoga ditangan pencuri itu, helm dan jaket saya bermanfaat. dan saya jadi ingat seorang teman, Andrea Hirata, mengatakan dalam novelnya : Tuhan tahu tapi menunggu....

Minggu, 25 Mei 2008

MISKIN BUKAN PILIHAN



Saya dengar hari ini di seantero Surabaya, sedang berlangsung demo kenaikan tarif oleh sejumlah awak angkutan kota. Ini adalah efek domino dari kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang kian tak terjangkau. Kaum pendemo sebelumnya sudah kalah dengan mulai diberlakukannya harga baru BBM yang tidak populer itu. Maka, ya hanya demo dan demo yang menjadi kesempatan yang bisa dilakukan oleh rakyat kemudian, karena ironisnya DPR juga hanya menjadi macan ompong. Dan polisi yang sebenarnya terkena dampaknya juga harus memasang wajah angker melawan pendemo. Rakyat dihadapkan dengan rakyat. 
Propaganda pemerintah yang mengatasnamakan kepentingan negara, justru memperpuruk rakyatnya. Mungkin rakyat, demikian juga problem sosialnya ditempatkan hanya sebagai data statistik angka-angka saja, meski kita tahu ini adalah riil. Nyata senyata-nyatanya jika sebuah kebijakan sangat berdampak pada kehidupan mereka : tentang kemampuan berusaha, tentang apa yang akan mereka makan, tentang bagaimana melanjutkan hidupnya esok hari. 
Bantuan Langsung Tunai (BLT) menurut saya hanya memberikan nafas hidup beberapa saat saja. Ini tak menjadi solusi mensiasati harga-harga kebutuhan yang ikut melambung. Celakanya, tidak semua yang berhak menerima. Spesifikasi kriteria miskin masih terlalu absurd. Padahal banyak juga yang meskipun sudah memiliki pekerjaan tetap, misal pelayan toko, pembantu rumah tangga, kru angkutan, buruh pabrik, dengan gaji yang ada, mereka tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan. Padahal mereka sudah menghempaskan diri dengan menutup mata perihal gaya hidup, atau kebutuhan skunder lainnya. Mereka kadang menggantungkan hidup besok pagi dengan berhutang ke tetangga atau rentenir, atau kadang menggadaikan barangnya yang tidak seberapa.
Ya, tapi kebijakan sudah divoniskan. Kebijakan yang terasa tidak bijak sebenarnya. Lebih tepat disebut keputusan sepertinya. Keputusan yang final, yang tidak boleh dianulir, demi kepentingan negara, meski entah yang dinamakan negara itu seperti apa bentuknya. Keputusan yang terencana rapi dengan tidak memandang kepentingan riil rakyat.
Sekian banyak presiden kok ya tidak menuntaskan masalah kita ya?