Arsip Blog - Membuka dengan Hati

Rabu, 13 Februari 2008

MIMPI BURUK

Tiba-tiba aku berada digurun tandus. Hanya berteman bayanganku sendiri yang tegak lurus ke Timur. Langit merah senja membakar kulit, menyengat hingga rongga pori-pori. Tak biasanya matahari begitu senyap. Kupingku tak menangkap sesuara apapun. Hanya deru debu terkoyak angin. Rumput kering. Ilalang kering.
Terseok aku mencoba mendaki gunung pasir. Kakiku terantuk sebongkah besar tengkorak kepala kerbau. Dilobang hidungnya masih tertancap gelang perak. Mulutnya menyeringai seperti kesakitan. Aku terus berjalan menuju barat, tempat kelak matahari bersemayam. Tapi hanya beberapa langkah ke muka, beralihlah matahari itu secara tiba-tiba membelakangiku. Aku bingung. Kubalikkan badan, matahari itu berpendar menjadi dua sama besar. Sengatannya lebih tajam hingga sekujur tubuhku berlumur keringat.
Dari sisi kanan lalu bergulung pasir laksana angin puting beliung. Aku berlari menghindar, tapi derunya tak mampu kutahan. Aku terpelanting beberapa meter. Bergulingan dan jatuh lagi ke tempat semula. Mulutku memuntahkan darah segar. Dadaku terasa sesak. Aku mencaba bangkit disela pening yang sangat. Berjalan limbung mencoba menjamah matahari. Tanganku kugapai-gapai. Karena kata orang, matahari adalah sumber kehidupan. Aku ingin hidup.
Mengapa di padang ini tak seorangpun kujumpa? Dimana aku? Aku berteriak kencang memanggil orang-orang terdekatku. Bapak, ibu, Laksita istriku. Mereka muncul diujung sana, sedang sholat jamaah. Sekuat tenaga aku berjalan. Lalu aku terjatuh lagi, terjembab. Ketika wajahku kusembulkan, mereka hilang. Fatamorganakah? Aku semakin frustrasi. Tangan dan kakiku mulai tak mampu kugerakkan. Tenggorokanku merindukan air segar. Terasa sekali napas tersengal. Ah, ajalku mungkin akan segera tiba.
Suara-suara semakin seru terdengar. Perempuan mengaji. Lelaki bersholawat. Tetapi aku tak menemukan dari mana asal suara itu. Bumi terasa sangat luas sekali dengan hamparan pasir dan ilalang yang mulai terbakar sana-sini.
Seketika langit menghitam. Angin berubah begitu saja menjadi sedingin es. Kilat menyambar-nyambar. Suaranya berdentuman berbalas dengan gemanya dari dasar bumi. Hujan deras menyusul. Cepat sekali. Aku merayap mencari teteduhan. Tak kutemukan. Air itu menghuncam tubuhku sangat tajam. Aku menjerit kesakitan.
Lalu segenggam tangan renta tiba-tiba membantuku untuk bangkit. Kupandangi dia yang berbaju compang-camping dengan rambut beruban. Kurus sekali, namun cukup kuat untuk memapahku ke sebuah tempat yang entah mengapa tanpa bisa kupikirkan, ada ceruk tanah kecil mirip gua didepanku. Aku pasrah ketika dia meletakkanku disudutnya. Redup suluh menyala. Dia menyelimutiku dengan karung goni.
“Kau siapa?” tanyaku,”Malaikatkah?”
“Kau tak ingat aku? Coba kau ingat-ingat lagi..” Jawabnya.
“Aku sudah mati?”
Dia menggeleng. Dia lalu meracik sesuatu, “Kau harus bertahan disaat-saat seperti ini. Jangan dilihat dari apa makanan ini, makanlah..”
Hampir muntah lagi aku ketika kulihat ternyata masih ada sisa tubuh cacing dan belatung di cawan tanah itu. Perutku mual seketika. Aku mencoba bertahan ketika melihat pak tua memakannya dengan lahap.
“Nikmat..ayo coba. Hanya ini yang bisa kita makan. Tak ada yang akan menolongmu hidup kecuali makanan ini.”
Semakin mual aku, dan muntahlah aku. Tubuhku jadi meriang tak karuan. Pak tua tertawa keras sambil berjalan menjauh semakin masuk ke gua. Dia menembus dinding dan hilang. Akal sehatku sudah tak mampu kugunakan.
Dan Suara lalu-lintas Pingit memekakkan telingaku. Seperti mimpi aku terseret begitu saja. Didepan mataku menjulur tangan kurus dengan cawan tanah meminta-minta dibawah lampu merah. Lalu lima anak kecil berlarian mendekatinya. Aku sangat kenal dengan salah satunya, bukankah itu aku? Mereka meletakkan beberapa ekor cacing dan belatung di cawan itu dan berlari sambil tertawa-tawa. Anak-anak nakal. Orang tua itu menoleh. Ya, Tuhan. Orang tua itu. Orang yang baru saja menolongku dan menghilang di dinding itu.
Sekelebat muncul seekor kerbau dengan cincin perak dihidungnya dari balik batu. Dia berusaha menyerudukku. Sisa tenaga kugunakan untuk menjejakkan kaki melompat ke kiri. Aku bergulingan dan kerbau menghilang menembus dinding.
Aku masih terengah ketika kulihat di ujung yang lain seorang ibu muda sedang menyusui sang bayi. Diatas tempat tidur usang berkelambu dia meninabobokkan sambil bersenandung lagu jawa.
“Yogyanira…kang para prajurit….”
Aku sangat ingat sekali moment ini. Ibuku selalu menembang lagu itu tatkala aku bayi. Lalu pasti dia akan mendongeng tentang pangeran Diponegoro yang berjuang di Tegalrejo. Atau tentang Panembahan Senopati yang lantang melawan Kompeni.
Didekatnya ternyata sang suami sedang asyik duduk di kursi goyang sambil membaca Koran diterangi bola lampu bersawang.
“kapan mulai kau sapih anak itu, Bune? Jangan dimanja. Anak laki-laki harus kuat. Harus tegar. Sebab dia nanti mengemban amanat menjadi pemimpin..”
Istri menoleh, “Dia masih belum mau, pak..Biarkan saja to.”
“Yo, sakkarepmu. Tapi inget, perutmu itu juga harus dijaga. Sudah jalan enam to?”
Sayup dibalik dinding bambu, suara wanita renta menderes Al-Ashr. Suara nenekku. Lalu kemudian menimpali puluhan suara lelaki berjanjen: “La illa ha ilallah…La illa ha ilallah…” Semakin keras, semakin mencoba menyadarkanku dari sesuatu yang aku sendiri tak tahu. Jantungku serasa tercabik-cabik. Suara itu seperti genderang drumband Akabri yang sering kulihat di karnaval tujuhbelasan. Dan kemudian kusaksikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melambai-lambaikan tangan di singgasana. Gagah benar. Prabawa agung.
Lalu terdengar soundsystem menggemakan nyanyian perjuangan dari truk terbuka yang dihuni lelaki dan wanita berbaju adat dan tentara.
Lalu sebuah teriakan,” Cooopeet!”
Semua orang menoleh. Seorang lelaki kumuh berusaha lari dari kerumunan. Belasan lelaki lainnya menghalang-halangi langkahnya. Bapak menurunkanku dari bahunya, dan ikut menghajar lelaki itu. Suasana kacau. Sempritan polisi memekakkan telinga. Jalan Malioboro jadi riuh.
Seketika, sebuah tangan kecil menarikku. Kutoleh, anak empat tahun sudah didepanku. Bimo adikku! Dia meringis dengan barisan giginya yang menghitam dan geripis. Dia menyeruak kerumunan. Saat kami bebas, kami telah berada di sebuah halaman yang kukenal sebagai beranda rumah pak Kadus. Suasana gelap. Penerangan hanya berasal dari lampu-lampu panjar di depan rumah warga. Berisik suara televisi pak Kadus menyiarkan pertandingan bola timnas Pra piala dunia.
Kami berdua duduk di lincak bambu. Aku masih mendengar suara bapak mencari-cariku yang hilang di Malioboro. Aku tak mengerti kenapa waktu bergulir begitu cepat. Tadi masih siang, beberapa detik saja sudah dalam suasana malam purnama.
“Kamu kemana saja, Bimo? Bapak dan Ibu menangis sepanjang hari. Kau hanya tidur. Aku membangunkanmu, kau diam saja. Bapak lalu pingsan. Ibu juga. Mbah kakung menggendongmu. Semua orang ikut. Sejak itu kita tak ketemu. Kau kemana saja?”
“mau ikut aku,Mas?”
Dia menunjuk ke arah bulan yang bulat itu. Kami seperti terperangkap dalam sebuah kerucut hitam dengan ujung berlubang di atas sana.
“Yo prakanca dolanan ing njaba, padhang mbulan padhange kaya rina…”
Dia bernyanyi riang. Digandengnya aku. Lalu kami seketika saja terbang bersama ke arah bulan. Bulan itu tampak semakin terang saja. Bumi semakin jauh di bawah sana. Aku menembus atmosfir mengarungi angkasa berbintang.
Ujung kerucut semakin dekat. Kukira bulan itu padat, ternyata hanyalah sebuah lobang terang seukuran tubuhku dan Bimo. Kami melewatinya. Saat itu rasa berdesir merambati tengkukku.
Tiba-tiba aku sudah berada lagi di gurun tandus dan tersapu hantaman deru pasir yang mengkandaskanku ke bawah. Aku berguling-guling. Darah segar kembali menyembur dari mulutku. Terpisah aku dengan Bimo yang terpelanting jauh tersapu deras sungai di ujung desa. Suaranya tak henti meratap, namun tetap kalah oleh dentuman riak air yang beradu dengan batu-batu. Tubuh kecilnya menyembul sebentar lalu menghilang di bawah pusaran air. Aku berteriak kencang.
Sementara langit merah senja membakar kulit. Aku kehabisan napas. Kuteriakkan nama bapak, nama ibu, dan Laksita istriku. Dan Bimo. Dan mbah kakung, dan nenek. Saat itu, tubuhku seperti terseret angin ke barat, menenggelamkanku ke sebuah kolam jernih dengan biru langit tropis. Tanganku menggapai-gapai permukaan.
Dan mataku terbuka. Ada infus melekat tertancap dikulit tanganku. Dan kulihat Laksita istriku berurai air mata memelukku dengan cinta yang telah tertanggungkan sekian lama. Bapak yang mulai renta dan ibu yang mulai lamban lalu sujud syukur seketika. Bau obat menguasai ruangan ini. Ada tulisan di jauh sana :ICU.
Seseorang berjas putih berkata,”Syukur, masa kritismu telah berlalu…”
Steteskop masih menempel di dadaku. Dingin. Sedingin ujung laras aparat yang terakhir kuingat sebelum aku mengalami mimpi buruk.


Patua, 4 Juni 2007
Danu Wiratmoko

Tidak ada komentar: